[Belajar Tauhid] Bernadzar pada Selain Allah

Allah ta’ala berfirman,

يُوفُونَ بِالنَّذْرِ وَيَخَافُونَ يَوْمًا كَانَ شَرُّهُ مُسْتَطِيرًا

“Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” [al-Insan: 7].

Beberapa faidah terkait ayat di atas:

#1

Nadzar adalah ibadah karena Allah memuji mereka yang menunaikan nadzar dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk memenuhi nadzar ketaatan. Segala sesuatu yang dipuji dan diperintahkan syari’at, atau syari’at memuji orang yang melakukannya terhitung sebagai ibadah [al-Qaul as-Sadid hlm. 130].

Ibnu al-Qayyim mengatakan, “Sesungguhnya nadzar adalah ibadah dan qurbah yang merupakan sarana mendekatkan diri orang yang bernadzar kepada objek peruntukan nadzar.” [Ighatsah al-Lahafan].

 

#2

Karena nadzar adalah ibadah, memalingkannya kepada selain Allah merupakan syirik akbar. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,

ولا يجوز أن ينذر أحد إلا طاعة ، ولا يجوز أن ينذرها إلا لله ، فمن نذر لغير الله فهو مشرك ، كمن صام لغير الله وسجد لغير الله

“Seseorang hanya diperbolehkan melakukan nadzar ketaatan dan nadzar ketaatan tersebut hanya boleh diperuntukkan kepada Allah. Setiap orang yang bernadzar pada selain Allah adalah seorang musyrik, kondisinya seperti seorang yang berpuasa dan sujud kepada selain Allah.” [Minhaj as-Sunnah].

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah mengatakan ‘Berdo’a kepada mayit, berhala, batu, pohon dan makhluk yang lain, beristighatsah dan meminta pertolongan kepadanya, menyembelih untuknya, bernadzar untuknya, berthawaf untuknya, semua itu termasuk syirik akbar.’ [Majmu Fatawa Ibn Baz].

 

#3

Nadzar secara bahasa adalah janji untuk melakukan kebaikan atau keburukan. Secara istilah, nadzar berarti pembebanan mukallaf (hamba) pada dirinya sendiri dengan suatu ketaatan yang tidak wajib, karena ingin mengagungkan objek peruntukan nadzar. Nadzar seperti ucapan seseorang ‘Wajib bagi diri saya bernadzar melakukan hal itu untuk fulan’. Ucapan itu dilakukan untuk mendekatkan dirinya kepada mereka. [al-Qamus alMuhith].

 

#4

Ditinjau dari perbuatan yang menjadi objek nadzar, maka nadzar terbagi tiga, yaitu:

Nadzar masyru’ (yang disyari’atkan), yaitu nadzar yang ikhlas untuk Allah ta’ala yang dilakukan benar dan sesuai syari’at. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Nadzar yang wajib ditunaikan harus memenuhi dua pokok (syarat), yaitu tujuan melakukan nadzar adalah untuk Allah dan berupa ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya.” [Nazhariyah al-‘Aqd].

 

Nadzar syirik yaitu nadzar yang diperuntukkan pada selain Allah ta’ala seperti nadzar untuk berhala, nabi, wali, dan yang semisal. Syaikh al-Islam, Ibnu Taimiyah mengatakan,

فمن نذر لغير الله فهو مشرك ، كمن صام لغير الله وسجد لغير الله

“Setiap orang yang bernadzar pada selain Allah adalah seorang musyrik, kondisinya seperti seorang yang berpuasa dan sujud kepada selain Allah.” [Minhaj as-Sunnah].

 

Nadzar maksiat yaitu nadzar yang menyelisihi ketentuan syari’at karena bukan berupa ketaatan seperti seorang yang bernadzar akan membunuh anaknya karena Allah atau bernadzar akan meminum khamr. Nadzar yang demikian tidak boleh dipenuhi karena justru merupakan kemaksiatan kepada Allah ta’ala. Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, ‘Apa yang menjadi objek nadzar untuk Allah bisa jadi berupa ketaatan, yang bisa diperuntukkan untuk Allah; dan boleh jadi bukan suatu ketaatan. Nadzar itu tidak wajib dipenuhi kecuali nadzar yang diperuntukkan kepada Allah dan berupa ketaatan.’ [Nazhariyah al-‘Aqd].

 

#5

Dari poin 4 di atas, nyata perbedaan antara nadzar syirik dan nadzar maksiat. Nadzar syirik pada asalnya diperuntukkan pada selain Allah. Sedangkan nadzar maksiat diperuntukkan pada Allah, namun nadzar dilakukan pada perkara-perkara kemaksiatan seperti ucapan, ‘Demi Allah, wajib atas saya bernadzar melakukan perbuatan maksiat itu.’ [at-Tamhid li Syarh Kitab at-Tauhid].

 

#6

Pujian yang ada dalam al-Quran ditujukan pada orang yang melakukan nadzar ketaatan, di mana seorang muslim mewajibkan dirinya untuk melakukan ketaatan kepada Allah tanpa mempersyaratkan tercapainya sesuatu untuk dirinya. Nadzar ini lazim dinamakan para ulama dengan nadzar qurb.

Syaikh al-Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Jika seseorang bernadzar al-qurb (ketaatan), maka ketaatan itu dicintai Allah dan rasul-Nya. Nadzar itu dilarang hanya ketika diyakini bahwa nadzar itu mampu memenuhi keinginan seseorang, buka karena status objek nadzar itu dibenci.” [Jami’ al-Masail].

 

Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Dari firman Allah ta’ala, ‘يُوفُونَ بِالنَّذْرِ’, dapat diambil kesimpulan bahwa menunaikan nadzar adalah ibadah karena adanya pujian bagi orang yang melakukannya. Akan tetapi hal ini khusus untuk nadzar ketaatan. Ath-Thabari mengeluarkan riwayat dari Mujahid perihal firman Allah tersebut, di mana Mujahid mengatakan, ‘Apabila mereka bernadzar untuk melakukan ketaatan kepada Allah…’… ath-Thabari juga mengeluarkan riwayat dari Qatadah dengan sanad yang shahih tetang firman Allah tersebut, beliau mengatakan, ‘Mereka bernadzar untuk melakukakan ketaatan kepada Allah berupa shalat, puasa, zakat, haji, umrah dan apa yang diwajibkan atas mereka, maka Allah menyebut mereka dengan abrar (orang-orang yang baik)’. Ini menunjukkan bahwa pujian yang terdapat dalam ayat tersebut (diperuntukkan untuk nadzar ketaatan) dan bukan untuk nadzar mujazah.” [Fath al-Bari].

 

#7

Adapun larangan bernadzar yang disebutkan dalam beberapa hadits ditujukan untuk nadzar mujazah atau nadzar mu’allaq, yaitu nadzar yang dilakukan seseorang dengan mempersyaratkan sesuatu. Ketaatan yang menjadi objek nadzar baru dilakukan ketika permintaan atau keinginannya terpenuhi. Hal ini seperti ucapan, ‘Apabila Allah ta’ala menyembuhkanku, saya wajib menyembelih seekor kambing.’

Ibnu Hajar mengatakan, “al-Qurthubi menegaskan dalam al-Mufhim bahwa larangan bernadzar yang terdapat dalam beberapa hadits ditujukan pada nadzar mujazah. Beliau mengatakan, ‘Larangan ini diperuntukkan pada ucapan seorang seperti, ‘Apabila Allah menyembuhkan sakitku, saya wajib bersedekah sekian’. Alasan hal yang demikian dibenci karena ketika ketaatan tersebut bergantung pada terpenuhinya keinginan orang yang bernadzar, nampaklah bahwa dia tidak sepenuhnya mendedikasikan niat melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala, bahkan apa yang dilakukannya itu menunjukkan keengganan untuk melakukan ketaatan. Hal itu jelas, karena seandainya Allah tidak menyembuhkan penyakitnya, dia akan enggan bersedekah. Inilah kondisi orang yang pelit, di mana dia tidak akan mengeluarkan hartanya sepeser pun kecuali ada ganti yang umumnya lebih besar dari harta yang telah dikeluarkannya. Inilah makna yang terkandaung dalam hadits Nabi, di mana Nabi bersabda, ‘(Nazar hanyalah dikeluarkan oleh orang yang pelit). Orang yang bernazar tersebut mengeluarkan harta yang sebenarnya tidak ingin dikeluarkan.’

al-Qurthubi melanjutkan, ‘Terkadang hal ini disertai keyakinan daro orang yang jahil, di mana dia berkeyakinan bahwa nadzar melazimkan terpenuhinya keinginan atau bahwa Allah mengabulkan keinginannya disebabkan nadzar tersebut. Kedua keyakinan inilah diisyaratkan dalam hadits, ‘Sesungguhnya nadzar tidak mampu menolak takdir Allah sedikit pun.’ Keyakinan yang pertama dekat pada kekufuran dan keyakinan yang kedua adalah kekeliruan yang nyata.’ Komentar saya (Ibnu Hajar), ‘Bahkan keyakinan yang kedua ini juga dekat pada kekufuran.’” [Fath al-Bari].

 

#8

Syaikh al-Islam, Ibnu Taimiyah dan ulama yang lain menyatakan bahwa nadzar mujazah (nadzar mu’allaq) bukanlah sebab terpenuhinya keinginan, tapi do’a, sedekah dan amal shalih yang semisal yang menjadi sebab terpenuhinya keinginan. [Jami’ al-Masail].

 

#9

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ نَذَرَ أَنْ يُطِيعَ اللَّهَ فَلْيُطِعْهُ، وَمَنْ نَذَرَ أَنْ يَعْصِيَهُ فَلاَ يَعْصِه

“Siapa yang bernadzar untuk menaati Allah, maka dia wajib menaati-Nya. Dan siapa yang bernadzar untuk bermaksiat kepada Allah maka janganlah dia bermaksiat kepada-Nya.” [HR. Al-Bukhari].

Nadzar yang wajib ditaati adalah nadzar yang diperuntukkan kepada Allah (ikhlas) dan berupa ketaatan sebagaimana yang dikatakan Syaikh al-Islam, Ibnu Taimiyah. Apabila syarat pertama tidak terpenuhi, yaitu ikhlas, itulah nadzar syirik. Dan jika syarat kedua tidak terpenuhi, itulah nadzar kemaksiatan.

 

#10

Apakah wajib membayar kaffarah sumpah jika nadzar tidak ditunaikan karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كَفَّارَةُ النَّذْرِ كَفَّارَةُ الْيَمِينِ

“Kaffarah nadzar adalah kaffarah sumpah.” [HR. Muslim].

Hal ini menjadi perbincangan ulama karena terdapat beberapa hadits terkait hal ini. Namun, semoga apa yang disampaikan oleh asy-Syaukani rahimahullah merupakan pendapat yang tepat dalam masalah ini. Beliau mengatakan,

والظاهر اختصاص الحديث يعني حديث مسلم المذكور بالنذر الذي لم يسم ; لأن حمل المطلق على المقيد واجب ، وأما النذور المسماة إن كانت طاعة فإن كانت غير مقدورة ففيها كفارة يمين ، وإن كانت مقدورة وجب الوفاء بها سواء كانت متعلقة بالبدن أو بالمال ، وإن كانت معصية لم يجز الوفاء بها ولا ينعقد ولا يلزم فيها الكفارة ، وإن كانت مباحة مقدورة فالظاهر الانعقاد ولزوم الكفارة لوقوع الأمر بها في الأحاديث في قصة الناذرة بالمشي إلى بيت الله ، وإن كانت غير مقدورة ففيها الكفارة لعموم : ” ومن نذر نذرا لم يطقه ” . هذا خلاصة ما يستفاد من الأحاديث الصحيحة

“Pendapat yang tepat, hadits yang diriwayatkan Muslim dikhususkan untuk nadzar yang tidak disebutkan bentuk nadzarnya, karena membawa nash yang mutlak pada nash yang muqayyad wajib dilakukan. Adapun nadzar musammah (nadzar yang disebutkan bentuk nadzarnya), apabila tidak mampu dilakukan maka diganti dengan kaffarah sumpah. Apabila nadzar itu mampu dilakukan wajib ditunaikan baik terkait dengan fisik atau harta.

Apabila nadzar itu berupa kemaksiatan tidak boleh ditunaikan, tidak sah, dan tidak wajib untuk diganti dengan kaffarah.

Apabila nadzarnya mubah dan mampu dilakukan, pendapat yang tepat nadzarnya sah dan wajib membayar kaffarah sumpah (jika tidak dipenuhi) karena adanya perintah memenuhi nadzar yang terdapat dalam beberapa hadits terkait seorang wanita yang bernadzar untuk berjalan kaki menuju Baitullah. Apabila tidak mampu dilakukan, maka diganti dengan kaffarah sumpah berdasarkan keumuman hadits ‘“Barangsiapa bernadzar sesuatu nadzar yang tidak mampu dilaksanakannya, kaffarahnya adalah kaffarah sumpah.’. Inilah kesimpulan yang dapat diambil dari hadits-hadits yang shahih.” [Tuhfah al-Ahwadzi].

 

Demikian. Semoga bermanfaat. Silakan dibagikan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s